Adakah Perhatian Untuk Mereka ?
Oleh :
RIA HARMAYANI
Tulisan pertama yang butuh banyak kritikan.
Thanks to : Prof. Suhubdy,, Guru nulis saya.. Terima kasih atas bimbingan dan suntikan semangatnya.
Bagi sebagian orang, rumput bukanlah sesuatu yang berharga dan hanya dianggap sebagai hiasan taman, yang kerap kali terinjak oleh kaki-kaki yang tak bertanggung jawab dan mereka yang tidak pernah memiliki penghargaan sedikitpun bagi makhluk ciptaan Tuhan. Namun, disisi lain rumput-rumput itu mampu memberikan penghidupan dan secercah rasa syukur bagi bocah-bocah yang penuh dengan kerja keras.
Menyimak judul tulisan ini, agaknya suatu hal yang tak masuk akal dan membuat setiap pembacanya menjadi bertanya-tanya. Namun hal tersebut sesungguhnya memang benar terjadi dan dapat dilihat setiap harinya diberbagai desa di wilayah Lombok Barat dan tampaknya belum ada perhatian untuk mereka.
Berikut ini adalah uraian singkat mengenai bagaimana dan mengapa fenomena tersebut dapat terjadi dan apa saja pengaruhnya bagi kehidupan bocah-bocah penyabit duit itu.
Istilah untuk penyabit duit itu diberikan pada bocah-bocah yang setiap harinya harus bekerja untuk menyabit rumput dan terpaksa harus ikut membanting tulang membantu orang tua mereka.
Bocah-bocah berwajah polos yang memiliki segudang impian dan penuh harapan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik, terpaksa harus menyimpan dalam-dalam impiannya setiap hari. Karena setiap pagi hari, mereka harus meninggalkan hak mereka untuk menuntut ilmu. Begitu pula di sore harinya, bocah-bocah itu harus mengurangi waktu bermain mereka untuk menuju ke pematang-pematang sawah dan tepi-tepi jalan desa yang banyak ditumbuhi rumput-rumput lapangan.
Sungguh ironis memang membayangkan hal tersebut, bocah-bocah yang seharusnya duduk manis dibangku sekolah dan asyik bermain bersama teman-teman sebayanya di halaman rumah dan lapangan, harus mampu menerima kenyataan yang ada dan setiap harinya harus disibukkan dengan pekerjaan menyabit rumput yang biasa dilakukan oleh orang tua mereka atau oleh para peternak.
“Tangan-tangan mungil yang seharusnya memegang buku pelajaran dan pulpen, harus piawai memegang dan mengayunkan sabit agar tak melukai tangan-tangan manis mereka”
Mampukah anda membayangkan hal tersebut? Begitu memilukan bila membayangkannya. Inikah gambaran generasi Indonesia kini, seiring bertambah majunya ilmu pengetahuan dan teknologi? Seharusnya masih ada jawaban yang lebih bijaksana untuk menjawab pertanyaan itu.
Namun, entah apa yang ada dalam fikiran orang tua-orang tua yang membiarkan anak-anak mereka yang masih berusia 7-10 tahun, ikut bekerja keras dan menjadikan fenomena tersebut sebagai sesuatu yang wajar sehingga merupakan suatu kebiasaan yang turun menurun.
Rendahnya tingkat ekonomi dan pengetahuan, inilah yang menjadi beberapa alasan mengapa fenomena tersebut tetap berjalan. Hanya saja hal itu bukanlah menjadi alasan yang tepat untuk mempertahankan kondisi tersebut.
Di sisi lain, bocah-bocah penyabit rumput itu mampu menjadi mesin pencetak uang. Hanya dengan bermodalkan sebuah sabit, satu buah keranjang dan teknik menyabit yang asal-asalan, satu orang bocah dapat mengantongi uang sebesar Rp. 20.000,- hingga Rp. 30.000,- setiap harinya.
Pada pagi hari, mereka mulai menyabit rumput sekitar pukul enam dan di sore harinya sekitar pukul empat sore, dan mampu menyabit rumput sebanyak 2 hingga 3 keranjang penuh setiap harinya. Dimana satu keranjangnya dijual dengan harga Rp. 10.000,- dan berat satu keranjang rumput dapat mencapai 10 kg.
“Sungguh penghasilan yang dapat dikatakan funtastik bagi seorang bocah yang tak hanya mampu menghidupi dirinya tetapi juga menghidupi keluarganya. Pantaslah bila kita menyebutnya sebagai pahlawan bersenjata sabit. Karena mereka tak hanya menjadi pahlawan bagi keluarga, tetapi pahlawan bagi para peternak serta ternaknya. Sungguh besar jasa-jasa mereka bagi kelangsungan usaha peternakan dan membantu masyarakat yang membutuhkan rumput”
Para peternak yang menjadi konsumen dari bocah-bocah penyabit itu, mereka sangat senang membeli rumput hasil sabitan bocah-bocah penyabit. Bagi mereka harga perkeranjangnya masih terjangkau oleh kantong peternak, selain itu lebih mudah dan praktis mendapat rumput, juga dapat menghemat tenaga untuk menjaga ternaknya.
“Inilah gambaran nyata dari para bocah yang kesehariannya menjadi penyabit uang. Dari pekerjaan menyabit dan mengisi keranjang dengan rumput, mereka mampu menyulapnya menjadi uang yang dapat mengisi kantong-kantong celana mereka yang telah kosong dan tak pernah terisi karena kerasnya kehidupan”
Kerasnya hidup memang terkadang membuat kita putus asa dan melupakan impian terindah itu. Pertanyaannya sekarang adalah masih adakah perhatian dan kepedulian kita untuk mereka? Dan apa yang dapat kita berikan untuk memperbaiki fenomena tersebut untuk menjadikan anak-anak Indonesia menjadi generasi yang selalu semangat dan cerdas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar